Psikologi Kelompok

kenapa dikucilkan dari suku adalah hukuman mati bagi manusia purba

Psikologi Kelompok
I

Pernahkah kita merasa dadanya mendadak sesak saat melihat unggahan teman-teman sedang asyik nongkrong tapi tidak mengajak kita? Atau mungkin, pernahkah kita merasakan cemas yang luar biasa saat harus left group obrolan secara tiba-tiba? Saya sering heran, kenapa rasanya sungguh tidak nyaman. Terkadang rasanya seolah dunia mau runtuh. Padahal, jika dipikir secara logika, kita tentu tidak akan mati hanya karena tidak diajak ngopi malam ini. Tapi, mari kita simpan logika itu sejenak. Karena ternyata, rasa sakit karena diabaikan atau dikucilkan itu bukanlah sekadar perkara baper belaka. Jauh di dalam untaian DNA kita, rasa sakit itu adalah alarm tanda bahaya tingkat tinggi.

II

Untuk memahaminya, mari kita melakukan perjalanan waktu mundur ke ratusan ribu tahun yang lalu. Bayangkan kita adalah manusia purba yang hidup berdampingan di padang sabana yang liar dan tak tertebak. Coba kita perhatikan fisik kita. Kita tidak punya taring tajam seperti saber-toothed tiger. Kulit kita sangat tipis dan tidak sekeras badak. Kalau harus adu lari lari melawan cheetah yang kelaparan, kita pasti kalah telak. Secara biologis, manusia purba adalah mangsa yang sangat empuk dan lambat. Lalu, apa yang membuat spesies kita bisa bertahan hidup, melebarkan sayap, dan bahkan akhirnya mendominasi bumi hari ini? Jawabannya cuma satu: kemampuan kita untuk bekerja sama. Kita berburu hewan besar bersama-sama. Kita berjaga di dekat api unggun secara bergantian di malam hari. Kelompok adalah satu-satunya perisai pelindung yang kita miliki. Tanpa perlindungan dari suku, kita hanyalah menu makan malam yang berjalan bagi para predator.

III

Sekarang, mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita saat interaksi sosial itu terputus. Para ilmuwan neuroscience pernah melakukan sebuah eksperimen yang sangat menggugah pikiran. Mereka memasukkan beberapa relawan ke dalam mesin pemindai otak (fMRI), lalu meminta mereka bermain sebuah game lempar tangkap bola secara virtual. Di tengah permainan, relawan ini sengaja dikucilkan. Pemain lain tidak lagi melempar bola kepadanya. Tebak apa yang terjadi pada otak mereka di layar monitor? Bagian otak yang menyala terang adalah anterior cingulate cortex. Menariknya, ini adalah area otak yang sama persis yang akan aktif ketika jari kita terjepit pintu atau saat kita menderita patah tulang. Otak kita ternyata tidak bisa membedakan antara rasa sakit fisik dan rasa sakit sosial. Namun, ini memunculkan sebuah pertanyaan besar. Kenapa sistem saraf kita didesain seaneh ini? Kenapa sekadar dijauhi teman bisa terasa begitu nyata nyerinya di dada, seolah kita baru saja dipukul keras-keras?

IV

Di sinilah teka-teki evolusi itu terjawab dengan cara yang brutal. Bagi nenek moyang kita, diusir dari kelompok bukan cuma soal harga diri yang terluka. Dikucilkan adalah sebuah vonis mati. Jika seorang manusia purba ketahuan egois, mencuri jatah makanan, atau membahayakan keselamatan suku, ia akan ditinggalkan. Berjalan sendirian di alam liar berarti tidak ada yang membantu mencari makan. Tidak ada yang menjaga saat tidur. Dalam hitungan hari, manusia yang dikucilkan itu pasti mati kelaparan, mati kedinginan, atau diterkam binatang buas. Karena ancaman inilah, evolusi "meretas" otak kita untuk bertahan. Alam semesta menciptakan sistem alarm paling kejam namun sangat efektif: rasa sakit emosional. Otak kita sengaja menyamakan pengucilan sosial dengan luka fisik yang mematikan agar kita kapok dan selalu patuh pada norma kelompok. Jadi, saat kita merasa panik karena di-cancel di media sosial atau digosipkan di kantor, itu sebenarnya adalah suara otak purba kita yang sedang berteriak histeris: "Cari temanmu sekarang, atau kamu akan mati dimakan harimau!"

V

Memahami sejarah psikologi kelompok ini sering kali membuat saya merenung. Kadang kita terlalu keras pada diri sendiri. Kita merasa lemah hanya karena kita butuh validasi atau merasa kesepian. Kita menuntut diri kita untuk jadi manusia kelewat mandiri yang kebal pada omongan orang lain. Padahal, saat kita melakukan itu, kita sedang melawan ratusan ribu tahun desain biologi kita sendiri. Tidak apa-apa merasa sedih saat eksistensi kita tidak diakui. Itu hanya membuktikan bahwa insting survival di dalam kepala kita masih bekerja dengan sangat baik. Namun, dengan berpikir kritis, kita juga sadar bahwa kita punya satu keuntungan besar di era modern ini. Kita tidak lagi hidup di sabana purba. Keluar dari satu lingkungan pertemanan yang toxic tidak akan membuat kita mati dimakan serigala malam ini. Kita selalu punya kebebasan untuk berjalan pergi dan mencari "suku" baru yang lebih sehat dan menghargai kita. Karena pada akhirnya, kita memang didesain secara genetis untuk saling terhubung, bukan untuk bertahan memikul beratnya dunia sendirian.